Pesan Cinta dari Cinta Terkubur
Aku akan terus melangkah kemana takdirku bisa
kudapat. Kemana bayangmu menuntunku untuk terus menapaki hati. Saatku lelah aku
akan duduk dengan bayang-bayang putihmu menemaniku dalam kegalauan akibat
perjuangan seperti apa yang kau inginkan dalam bayangmu dan mimpiku. Akan
kulakukan demi nama cinta yang telah tertimbun tanah merah dengan dua batu
nisan di atas tidur pulasmu dan payung-payung bunga kamboja yang indah.
Saat kuingat namamu... aku bergumam. Nama indah yang berarti ‘malamku’,
seindah mata dan rambut halusmu yang hitam dan harum. Kadang ku tersenyum
sendiri mengingat saat kau tersenyum manja membalas sapaan lembutku dan
sesekali ku mencium rambutmu saat kau sandarkan kepalamu di pundakku. Ah
sedikit sungkan kulakukan itu, tapi.. apapun yang kita lakukan itu adalah
ekspresi cinta anak muda yang susah di bendung, walaupun kita berdua tau itu
salah tapi alhamdulillah kita bisa menahan diri dari hal-hal yang bersifat over relasition dan tidak berbuat yang
lebih dari itu.
Kau tersenyum merasakan sentuhan kasih sayang
tulusku walaupun rasa itu tidak kau ucapkan lewat suara lembutmu. Kau begitu
lemah lembut, penyayang, tidak pernah marah ataupun merajuk dengan
salah-salahku, selalu sabar walaupun begitu banyak beban fisik terpendam dalam
badan mungilmu. Aku cuma bisa merasakan sedikit tentang beban itu karena kau
selalu menghempaskan kerisauan itu dengan senyum dan tawa ceriamu. Kau laksana
setitik embun yang jatuh di malam dingin dan kurasakan sejuk di hawa malamku
dan sampai sekarang terus membasahi kekeringanku.
Aku
mengenalmu saat kita di Asrama dulu waktu kau
masih sekolah menengah pertama dan aku masih di sekolah menengah atas di
suatu
Yayasan pendidikan yang sama. Aku mengagumimu karena kelembutan tutur
kata dan
tingkah laku yang selalu membuatku kagum. Aku selalu kalah cepat
denganmu saat
kita diwajibkan bangun di sepertiga malam untuk sholat malam dan
mengaji. Aku
selalu lebih lambat datang di masjid dan majelis pengajian karena
kebiasaan
tidurku yang susah dibangunkan. Hahaha.. aku ingin tertawa saat aku
selalu
telat datang dengan badan sedikit gemetar, mungkin karena malu yang
bercampur
dengan hawa dingin sepertiga malam ataukah karena harus melewati lirikan matamu
yang seperti
ingin menyalahkan ketelatanku. Seiring nada malam kita pun larut dalam
aktifitas yang padat
di mulai dari bangun malam, sholat berjamaah, mengaji Al-qur’an dan belajar
syariat
agama yang dibimbing para pengajar tercinta. Itu adalah sederet
aktifitas non Formal di luar pendidikan Formal yang kita jalani
sehari-hari. Saat itulah
awalnya ku lihat kau sehari-harinya, kebiasaanmu masih ku ingat saat kau
akan
ke sekolah atau ke masjid untuk mengaji. Selalu tergesa-gesa apalagi ada
teman-teman laki-lakimu yang iseng mengganggu. Aku paling senang
memandangmu
saat bangun malam untuk sholat tahajjud, saat itulah kulihat mimik
mukamu yang
baru bangun, begitu alami tanpa ada tambahan kosmetik sedikitpun hanya
bekas
basuhan air wudu’ yang nampak membasahi muka cantikmu. Aku tau itu..
karena aku
selalu berusaha bisa melirikmu saat kau asyik membaca Alqur’an setelah sholat
tahajjud.
Kebiasaanmu duduk di dekat sekat kaca antara tempat laki-laki dan
perempuan
memberikan kesempatan padaku untuk terus bisa melirik wajahmu setiap
subuh...
hah.. nikmat tak terkira dan hanya bisa tertera dalam tulisan sepenggal
ini... (Bersambung).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar