Gambar

Gambar
Ilustrasi

Jumat, 19 Desember 2014

Pesan Cinta dari Cinta Terkubur part I



Pesan Cinta dari Cinta Terkubur



Aku akan terus melangkah kemana takdirku bisa kudapat. Kemana bayangmu menuntunku untuk terus menapaki hati. Saatku lelah aku akan duduk dengan bayang-bayang putihmu menemaniku dalam kegalauan akibat perjuangan seperti apa yang kau inginkan dalam bayangmu dan mimpiku. Akan kulakukan demi nama cinta yang telah tertimbun tanah merah dengan dua batu nisan di atas tidur pulasmu dan payung-payung bunga kamboja yang indah.
Saat kuingat namamu... aku bergumam. Nama indah yang berarti ‘malamku’, seindah mata dan rambut halusmu yang hitam dan harum. Kadang ku tersenyum sendiri mengingat saat kau tersenyum manja membalas sapaan lembutku dan sesekali ku mencium rambutmu saat kau sandarkan kepalamu di pundakku. Ah sedikit sungkan kulakukan itu, tapi.. apapun yang kita lakukan itu adalah ekspresi cinta anak muda yang susah di bendung, walaupun kita berdua tau itu salah tapi alhamdulillah kita bisa menahan diri dari hal-hal yang bersifat over relasition dan tidak berbuat yang lebih dari itu.
Kau tersenyum merasakan sentuhan kasih sayang tulusku walaupun rasa itu tidak kau ucapkan lewat suara lembutmu. Kau begitu lemah lembut, penyayang, tidak pernah marah ataupun merajuk dengan salah-salahku, selalu sabar walaupun begitu banyak beban fisik terpendam dalam badan mungilmu. Aku cuma bisa merasakan sedikit tentang beban itu karena kau selalu menghempaskan kerisauan itu dengan senyum dan tawa ceriamu. Kau laksana setitik embun yang jatuh di malam dingin dan kurasakan sejuk di hawa malamku dan sampai sekarang terus membasahi kekeringanku.
Aku mengenalmu saat kita di Asrama dulu waktu kau masih sekolah menengah pertama dan aku masih di sekolah menengah atas di suatu Yayasan pendidikan yang sama. Aku mengagumimu karena kelembutan tutur kata dan tingkah laku yang selalu membuatku kagum. Aku selalu kalah cepat denganmu saat kita diwajibkan bangun di sepertiga malam untuk sholat malam dan mengaji. Aku selalu lebih lambat datang di masjid dan majelis pengajian karena kebiasaan tidurku yang susah dibangunkan. Hahaha.. aku ingin tertawa saat aku selalu telat datang dengan badan sedikit gemetar, mungkin karena malu yang bercampur dengan hawa dingin sepertiga malam ataukah karena harus melewati lirikan matamu yang seperti ingin menyalahkan ketelatanku. Seiring nada malam kita pun larut dalam aktifitas yang padat di mulai dari bangun malam, sholat berjamaah, mengaji Al-qur’an dan belajar syariat agama yang dibimbing para pengajar tercinta. Itu adalah sederet aktifitas non Formal di luar pendidikan Formal yang kita jalani sehari-hari. Saat itulah awalnya ku lihat kau sehari-harinya, kebiasaanmu masih ku ingat saat kau akan ke sekolah atau ke masjid untuk mengaji. Selalu tergesa-gesa apalagi ada teman-teman laki-lakimu yang iseng mengganggu. Aku paling senang memandangmu saat bangun malam untuk sholat tahajjud, saat itulah kulihat mimik mukamu yang baru bangun, begitu alami tanpa ada tambahan kosmetik sedikitpun hanya bekas basuhan air wudu’ yang nampak membasahi muka cantikmu. Aku tau itu.. karena aku selalu berusaha bisa melirikmu saat kau asyik membaca Alqur’an setelah sholat tahajjud. Kebiasaanmu duduk di dekat sekat kaca antara tempat laki-laki dan perempuan memberikan kesempatan padaku untuk terus bisa melirik wajahmu setiap subuh... hah.. nikmat tak terkira dan hanya bisa tertera dalam tulisan sepenggal ini... (Bersambung).